Search

Aku Yakin, Aku Tidak Sendiri

0 komentar

Sungguh. Hingga saat ini aku belum bisa menerjemahkan rasa hatiku sendiri. Sejak pertama kali suamiku mengatakan niatnya untuk melanjutkan studi ke negeri jiran setahun lalu, hingga sore ini, di mana besok suamiku harus berangkat, aku masih merasa asing dengan perasaanku.

Bahagia! Beberapa orang mengatakan aku harus demikian. Karena kesempatan ini adalah karunia yang tidak dapat dinikmati oleh semua orang.
Sedih? Itu yang ada di lubuk kalbuku, saat kulihat putra kami yang belum juga genap dua tahun harus tumbuh berkembang tanpa ayah di sisinya, untuk sementara waktu.
Ah… biarlah semuanya mengalir seperti air. Biarlah semuanya diatur oleh Dzat Yang Maha Mengetahui kesudahan hamba-Nya. Biarlah!

Memang hanya itu yang selama ini mengakhiri perenunganku, tentang hidup kami setelah suamiku berangkat. “Sabar ya, Sayang. Toh nanti kamu pun akan menyusul. Berdoalah semoga Allah segera mengumpulkan kita kembali dalam keadaan yang lebih berbahagia…” demikian kata-kata yang selalu diucapkan oleh suamiku, untuk menenangkanku. Aku pun paham, bahwa dia juga terhibur dengan kata-kata itu. Dan, akhirnya, hanya senyum yang menyudahi pembicaraan kami. Senyum penuh harapan, akan tercapainya cita-cita.
***

Allah memang mempunyai cara tersendiri untuk menata kehidupan hamba-Nya. Aku merasa amat bersyukur. Enam bulan lalu, perusahaan tempat suamiku bekerja merumahkan seluruh karyawannya. Saat itu, kami sendiri merasa gundah, terlebih berita di media menyebutkan bahwa ini adalah awal dari PHK. Ah… padahal sebelumnya kami sama sekali tak pernah membayangkannya. Memang, kadang niatan untuk mencari nafkah di tempat lain muncul, tapi itu hanya suatu wacana, bukan sebuah keseriusan. Dan, tatkala musibah itu datang, kami pun khawatir.

Doa pun mengalir tiada henti, memohon kemurahan rizki-Nya. Memohon ketenangan batin, mengharap situasi segera berubah. Alhamdulillah, dua pekan setelah itu, berita gembira datang. Setelah empat kali mengirimkan pengajuan beasiswa, Allah pun menjawabnya. Seorang professor salah satu perguruan tinggi negeri di Malaysia, mengijinkannya mengerjakan sebuah proyek, sembari mengambil pendidikan master. Subhannallah.. Alhamdulillah, pertolongan Allah memang begitu dekat buat semua hamba-hamba-Nya.

Hal yang dulu sempat menjadi masalah tak terpecahkan dalam setiap percakapan kami, akhirnya berubah menjadi sebuah anugerah yang tak ternilai. Jika dulu, aku sangat menentang keinginannya untuk melanjutkan studi karena kami harus berpisah, malah akhirnya aku menjadi pendukung utamanya. Subhannallah… Allah memang Maha membolak-balik hati hamba-Nya.
***

Sore ini, kembali aku merenung. Setelah dukungan demi dukungan kukerahkan padanya untuk persiapan keberangkatannya, aku tercenung. Apa yang nanti akan terjadi saat kami berpisah? Bagaimana aku bisa meng-handle semua pekerjaan rumah tangga yang dulu kami kerjakan berdua, bahkan bertiga dengan pengasuh anakku? Kepada siapa aku harus menumpahkan segala uneg-uneg setelah lebih dari delapan jam aku bekerja di kantor? Bagaimana aku harus menjelaskan kepada bocah kami, jika nanti dia merengek menanyakan ayahnya?

Beribu pertanyaan bermunculan di benakku. Namun tak satu pun yang terjawab. Semuanya bak misteri.
Hingga adzan maghrib berkumandang, aku masih belum menemukan jawabannya.
Kuambil air wudhu dan kutunaikan sholat. Aku berencana untuk menumpahkan segala rasaku pada Sang Khalik, usai sholat nanti.
Dan air mataku pun tak bisa kutahan lagi saat kata demi kata terurai, tertuju kepada-Nya. Aku memang masih bisa menahan emosi dan air mataku di depan suamiku. Karena aku tak ingin semangatnya jatuh kembali setelah beribu dukungan kuberikan kepadanya. Aku percaya akan tujuannya, menuntut ilmu untuk berusaha mengubah nasib kami.

Doakan ayah dapat ilmu yang manfaat ya, Ma, begitu kalimat yang selalu diucapkannya jika kami berbincang tentang rencana itu.
Namun, apakah aku mampu menyembunyikan segala kesedihan dan kekhawatiran hati ini kepada-Nya? Kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui hal yang nyata dan yang ghaib? Tidak! Tentu tidak. Aku tidak dapat berbohong kepada-Nya.
Sekarang aku mulai memahami, bahwa hatiku memang sedih. Aku memang khawatir… aku memang takut.

Namun semua kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan yang kurasakan harusnya tidak boleh terjadi.
Aku harus pasrah.. harus tawakal. Karena rencana itu tidak akan terjadi kecuali atas kehandak-Nya. Bukankah sebelumnya aku selalu berdoa meminta keputusan yang terbaik? Jika kemudian Allah menganugerahkan hal ini padanya, tentunya ini juga terjadi atas kehendak-Nya.

Aku harus tegar. Aku harus ikhlas.
Aku harus tetap menjalankan kehidupanku dengan sebaik-baiknya. Aku masih harus terus mendidik buah hati kami, walau tanpa ayah disampingnya. Apa pun yang terjadi, air mataku tak boleh menetes di depan putraku.
Aku yakin aku tidak sendiri. Ada Allah.. Dzat Yang Maha Pemurah… Dzat yang tak pernah kering kasih sayang-Nya… Dzat Yang Maha Welas Asih…Dzat Yang Maha Perkasa.
Kepada-Nya lah aku harus mengadukan setiap hal yang kuhadapi. Saat masalah datang. Saat kelelahan mendera jiwa dan raga. Saat beragam pernik kehidupan harus kulintasi.
Aku teringat petikan nasyid yang dikumandangkan Raihan:
Selangkah ku kepada-Mu.

Seribu langkah kau padaku…
Selama kita berusaha mendekat kepada-Nya, insya Allah Dia juga akan mendekat pada kita, seribu kali.
Doa. Hanya melalui doa-doa panjanglah aku akan mengharap rahmat-Nya. Agar cita-cita mulia yang kami impikan, bisa menajdi sebuah kenyataan.

Atas Nama Kesucian Menikahlah

0 komentar

Di Sebuah Kamar di kota Kecil Kalimantan Barat..............

Di depan Komputer, Eros sedang asyik bermain dengan tuts-tutsnya, ia selalu sibuk dengan pekerjaan organisasi dan catatan-catatan hariannya.

Pada hari itu ia tidak sedang ingin disibukan dengan tugas akhir kuliahnya, teori dan konsep yang menyesakkan kepala. Ia sibuk dengan hatinya yang saat ini bergelayut perasaan rindu. Rindu akan kehangatan seseorang. Ya seorang pendamping hidup untuk mengarungi laut bernama dunia ini.

Di bacanya pelan-pelan puisi yang baru saja di tulisnya.Hm...Puisi untuk sang bidadari..., Tetapi perasaan ragu juga menyerangnya apakah sang bidadari impiannya ini juga mencintainya dan apakah dia mau dengan ikhlas mendampingi hidupnya. Ingin rasanya ia menulis surat buat bidadari itu agar ia tahu segala isi hatinya.Isi hati yang resah di setiap waktu yang berdetak.

Ia mulai gelisah. Ia mulai bosan dengan aktivitasnya selama ini. Di pandanginya rak-rak buku yang sesak dengan konsep-konsep hasil pertemuan dengan rekan-rekannya di kampus. Hasil musyawarah nasional, musyawarah daerah hingga musyawarah komisariat. Eros menarik nafasnya yang paling dalam sambil mengucal rambutnya.

“ Ohh Tuhan...aku tidak sanggup begini seterusnya, berikan aku jawaban atas doa-doaku ya Allah “

Eros bingung harus bicara pada siapa. Semua sahabat-sahabatnya sudah menikah, tidak enak hatinya menganggu sahabat-sahabtnya dengan curhatnya.

Dengan malas eros bangkit dari depan komputernya, ia memandang suasana sore melalui jendela kamarnya, tapi ia belum juga menemukan ketenangan. Apakah ini yang pernah di katakan oleh seorang ustadz bahwa tidak akan ada ketenangan pda diri yang membujang,

Ohh Tuhan....berikan aku jawaban

Pandangan eros mulai kabur, ia mulai mengingat sebuah nama, iya Yulia, Eros jadi rindu dengan nama ini. Ia teringat kenangan bersama Yulia saat ia belum hijrah dari kejahiliyahannya. Yulia yang cantik keturunan tionghoa, berkulit putih, dengan senyum yang selalu menghias rona merah di wajahnya, yulia yang pernah mengucapkan cinta padanya, yulia yang rela menikah dengannya walau apapun adanya ia. Yulia yang selalu menjadikan eros sebagi teman curhat, yang selalu tidak bosan mengumbar kata ‘sayang’ padanya, Tapi walaupun demikian eros masih sadar kalau dia adalah seorang yang di jadikan contoh bagi keluarganya, aktifnya dia di remaja masjid dan masyarakat membuat dia sadar siapa dirinya, hingga ia tidak pernah memberikan jawaban apapun atas pernyataan cinta yulia, dia tahu kok kalau pacaran itu tidak boleh, tetapi ia juga tidak kuasa menolak kalau yulia membutuhkan kehadirannya sebagai teman bicara.

Hingga pernah yulia menangis terisak-isak menanti jawaban cinta dari Eros, sampai yulia bersedia menyerahkan segalanya pada eros. Cinta mati. Tapi eros tetap tidak bergeming. Dia tetap berprinsip pacaran itu di larang agama. Dan di email Yulia yang terakhir yulia akan tetap menunggu jawaban eros kapanpun itu.Sampai kapanpun.

Uch....Eros kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan terlihat nafasnya memburu, jantugnya berdetak kencang, ia ingin menangis tapi tidak bisa, Yulia begitu mencintainya tetapi mengapa eros tetap bersikukuh tidak menerima cinta yulia, eros masih sadar akan sebuh ayat Alqur’an yang maknaya “ Yang Shalih untuk yang Shalih dan yang jahat untuk yang jahat “. Yulia bukan untuk eros. Yulia berbeda keyakinan dengannya. Yuliapun tidak ingin merubah keyakinannya.

Eros meninggalkan jendela kamarnya, ia menuju kasur dan mengambil mushaf di samping kasurnya itu.

Begitu banyak sahabat-sahabatnya menanyakan kapan ia menikah, pertanyaan itu kembali mengaung di telinganya bahkan kini semakin menggema.....

“Oh Tuhan.....aku tidk sanggup dengan semua ini, aku tidak sanggup...aku ingin menikah Ya ALLAH, aku ingin menjaga kesucianku, aku ingin menggenapkan agamaku Ya ALLAH, nikahkan hamba Ya Tuhanku.....” airmatanya mulai mengalir setelah kian sulit ia menumpahkannya. Dengan agak sedikit terhuyung eros menuju kamar mandi. Wudhu.

“Tuhan, aku hanyalah sebatang korek api yang kecil, dan mudah patah, aku keinjak kaki-kaki manusia, aku dibuang, aku hanyalah sampah ....Ya Tuhan...”

Eros menggigil kedinginan. Dengan tekad membaja pokoknya harus menikah atas nama kesucian diri.

Oleh : Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan