Search

Atas Nama Kesucian Menikahlah

Di Sebuah Kamar di kota Kecil Kalimantan Barat..............

Di depan Komputer, Eros sedang asyik bermain dengan tuts-tutsnya, ia selalu sibuk dengan pekerjaan organisasi dan catatan-catatan hariannya.

Pada hari itu ia tidak sedang ingin disibukan dengan tugas akhir kuliahnya, teori dan konsep yang menyesakkan kepala. Ia sibuk dengan hatinya yang saat ini bergelayut perasaan rindu. Rindu akan kehangatan seseorang. Ya seorang pendamping hidup untuk mengarungi laut bernama dunia ini.

Di bacanya pelan-pelan puisi yang baru saja di tulisnya.Hm...Puisi untuk sang bidadari..., Tetapi perasaan ragu juga menyerangnya apakah sang bidadari impiannya ini juga mencintainya dan apakah dia mau dengan ikhlas mendampingi hidupnya. Ingin rasanya ia menulis surat buat bidadari itu agar ia tahu segala isi hatinya.Isi hati yang resah di setiap waktu yang berdetak.

Ia mulai gelisah. Ia mulai bosan dengan aktivitasnya selama ini. Di pandanginya rak-rak buku yang sesak dengan konsep-konsep hasil pertemuan dengan rekan-rekannya di kampus. Hasil musyawarah nasional, musyawarah daerah hingga musyawarah komisariat. Eros menarik nafasnya yang paling dalam sambil mengucal rambutnya.

“ Ohh Tuhan...aku tidak sanggup begini seterusnya, berikan aku jawaban atas doa-doaku ya Allah “

Eros bingung harus bicara pada siapa. Semua sahabat-sahabatnya sudah menikah, tidak enak hatinya menganggu sahabat-sahabtnya dengan curhatnya.

Dengan malas eros bangkit dari depan komputernya, ia memandang suasana sore melalui jendela kamarnya, tapi ia belum juga menemukan ketenangan. Apakah ini yang pernah di katakan oleh seorang ustadz bahwa tidak akan ada ketenangan pda diri yang membujang,

Ohh Tuhan....berikan aku jawaban

Pandangan eros mulai kabur, ia mulai mengingat sebuah nama, iya Yulia, Eros jadi rindu dengan nama ini. Ia teringat kenangan bersama Yulia saat ia belum hijrah dari kejahiliyahannya. Yulia yang cantik keturunan tionghoa, berkulit putih, dengan senyum yang selalu menghias rona merah di wajahnya, yulia yang pernah mengucapkan cinta padanya, yulia yang rela menikah dengannya walau apapun adanya ia. Yulia yang selalu menjadikan eros sebagi teman curhat, yang selalu tidak bosan mengumbar kata ‘sayang’ padanya, Tapi walaupun demikian eros masih sadar kalau dia adalah seorang yang di jadikan contoh bagi keluarganya, aktifnya dia di remaja masjid dan masyarakat membuat dia sadar siapa dirinya, hingga ia tidak pernah memberikan jawaban apapun atas pernyataan cinta yulia, dia tahu kok kalau pacaran itu tidak boleh, tetapi ia juga tidak kuasa menolak kalau yulia membutuhkan kehadirannya sebagai teman bicara.

Hingga pernah yulia menangis terisak-isak menanti jawaban cinta dari Eros, sampai yulia bersedia menyerahkan segalanya pada eros. Cinta mati. Tapi eros tetap tidak bergeming. Dia tetap berprinsip pacaran itu di larang agama. Dan di email Yulia yang terakhir yulia akan tetap menunggu jawaban eros kapanpun itu.Sampai kapanpun.

Uch....Eros kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan terlihat nafasnya memburu, jantugnya berdetak kencang, ia ingin menangis tapi tidak bisa, Yulia begitu mencintainya tetapi mengapa eros tetap bersikukuh tidak menerima cinta yulia, eros masih sadar akan sebuh ayat Alqur’an yang maknaya “ Yang Shalih untuk yang Shalih dan yang jahat untuk yang jahat “. Yulia bukan untuk eros. Yulia berbeda keyakinan dengannya. Yuliapun tidak ingin merubah keyakinannya.

Eros meninggalkan jendela kamarnya, ia menuju kasur dan mengambil mushaf di samping kasurnya itu.

Begitu banyak sahabat-sahabatnya menanyakan kapan ia menikah, pertanyaan itu kembali mengaung di telinganya bahkan kini semakin menggema.....

“Oh Tuhan.....aku tidk sanggup dengan semua ini, aku tidak sanggup...aku ingin menikah Ya ALLAH, aku ingin menjaga kesucianku, aku ingin menggenapkan agamaku Ya ALLAH, nikahkan hamba Ya Tuhanku.....” airmatanya mulai mengalir setelah kian sulit ia menumpahkannya. Dengan agak sedikit terhuyung eros menuju kamar mandi. Wudhu.

“Tuhan, aku hanyalah sebatang korek api yang kecil, dan mudah patah, aku keinjak kaki-kaki manusia, aku dibuang, aku hanyalah sampah ....Ya Tuhan...”

Eros menggigil kedinginan. Dengan tekad membaja pokoknya harus menikah atas nama kesucian diri.

Oleh : Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan

0 komentar: